Pujangga : Alfath Beriyan " The Fathin "
Dialah Allah sang Ar-Rahman...Karena cinta-Nya, seorang anak lahir dari rahim ibu
Karena cinta-Nya, seorang ibu menyayangi anak dan keluarganya
Karena cinta-Nya, seorang ayah rela bekerja penuh cinta untuk mengais rezeki
Dialah Allah sang Ar-Rahman...
Karena cinta-Nya, kita di uji untuk menjadi lebih baik
Karena cinta-Nya, Al-Qur'an terjaga
Karena cinta-Nya, waktu yang mustajab dirahasiakan
Karena cinta-Nya, Allah menciptakan sesuatu itu berpasangan dari perbedaan
Ada laki-laki, ada perempuan
Ada siang, ada malam
Ada yang hak, dan ada yang bathil
Dialah Allah sang Ar-Rahman...
Dengan cinta-Nya, bumi, langit, dan planet beralur secara harmonis
Dengan cinta-Nya, angin masih menyapa tumbuhan dan rerumputan
Dengan cinta-Nya, cahaya mentari masih menerpa bumi
Kepada Allah-lah muara cinta yang hakiki...
Tampilkan postingan dengan label Puisi Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Agama. Tampilkan semua postingan
Pujangga : Alfath Beriyan " The Fathin "

Tanpa Permisi dia datang
Menutup tirai malam
Bulan bintang ditelan gulita
Seribu senjata menerkan jiwa
Amat sakit sepi gelisah
Sang Raja mengutus prajurit
Mendatangi rumah kecil
Beratap papan kayu dan tanah
Berkawan binatang tanah
Prajurit bertanya kepada jiwa
Mampu menjawab cahaya terang
Tidak mampu kegelapan menerpa
Bersaksi anggota tubuh jiwa
Akan perbuatan jiwa di fana
Lautan api di depan mata
Dan jiwa bahan bakarnya
Tentu jiwa alan terjerumus
Bila tak punya bekal terindah
Sungguh perih
Amat sakit
Hanya ada gelap
Sepi gelisah
Tanpa Permisi dia datang
Menutup tirai malam
Bulan bintang ditelan gulita
Seribu senjata menerkan jiwa
Amat sakit sepi gelisah
Sang Raja mengutus prajurit
Mendatangi rumah kecil
Beratap papan kayu dan tanah
Berkawan binatang tanah
Prajurit bertanya kepada jiwa
Mampu menjawab cahaya terang
Tidak mampu kegelapan menerpa
Bersaksi anggota tubuh jiwa
Akan perbuatan jiwa di fana
Lautan api di depan mata
Dan jiwa bahan bakarnya
Tentu jiwa alan terjerumus
Bila tak punya bekal terindah
Sungguh perih
Amat sakit
Hanya ada gelap
Sepi gelisah
Pujangga : Alfath Beriyan " The Fathin"
Tetesan gemercik air memberiku sebuah isyarat
Meneteskan sebuah cinta yang tak terperi
Kelembutan dan ketenangan jiwa membasahi hati
Ku renungi semua harapan yang tak terpenuhi
Dan kini aku sadari semua egoku yang tak terkendali
Kucari tetesan itu dalam fikiranku
Kutanya, dimana dia?, aku butuh dia sekarang
Untuk tenangkan jiwaku yang telah suram
Tetesan gemercik air memberiku sebuah isyarat
Meneteskan sebuah cinta yang tak terperi
Kelembutan dan ketenangan jiwa membasahi hati
Ku renungi semua harapan yang tak terpenuhi
Dan kini aku sadari semua egoku yang tak terkendali
Kucari tetesan itu dalam fikiranku
Kutanya, dimana dia?, aku butuh dia sekarang
Untuk tenangkan jiwaku yang telah suram
Pujangga : Alfath Beriyan " The Fathin"

Bulan demi bulan aku lalui
Meski badai menghalangi
Namun aku tetap bertahan
Setahun kemudian ternyata aku tak mampu bertahan
Hujatan demi patahan kata menyakitkan aku
Luka, perih dan sakit yang kurasa
Namun, saat ini, aku ingat
Bahwa hidup ini begitu indah
Dikala kata yang menyentuh bagai petuah
Menasihati hatiku
Inilah kalimat terindah yang pernah ku dengar
Al-Quran sebagai pedoman hidup penyejuk jiwaku
Bulan demi bulan aku lalui
Meski badai menghalangi
Namun aku tetap bertahan
Setahun kemudian ternyata aku tak mampu bertahan
Hujatan demi patahan kata menyakitkan aku
Luka, perih dan sakit yang kurasa
Namun, saat ini, aku ingat
Bahwa hidup ini begitu indah
Dikala kata yang menyentuh bagai petuah
Menasihati hatiku
Inilah kalimat terindah yang pernah ku dengar
Al-Quran sebagai pedoman hidup penyejuk jiwaku
Pujangga: Alfath Beriyan " The Fathin"
Kini, tiba saatku….
Saatku telah tiba….
Aku telah dipanggil menuju kematian
Tetes air mata tak mampu lagi terurai
Kesedihan telah tiada berguna
Harta kekayaanku, pangkat, dan derajat tak lagi kubawa
Aku dimandikan, dan dikafani
Tubuhku hanya terdiam kaku
Membisu tanpa suara
Sanak keluarga mengantarku ke kuburan
Dan satu persatu mereka pergi meninggalkankanku sendiri
Di tempat yang gelap, sempit dan penuh binatang tanah
Keluargaku sedih kutinggal pergi
Mereka bingung menanggung beban yang ku tinggalkan
Maaf dan taubat, tak lagi diterima
Kini aku menanggung semua yang telah ku perbuat didunia
Andai saja aku di beri waktu sejenak
Aku akan berkeliling minta maaf kepada semua orang
Namun sayang semua telah terlambat
Langganan:
Postingan (Atom)
